Rentetan Kematian Dokter Muda Sepanjang 2026 Jadi Sorotan, Kemenkes Lakukan Evaluasi Menyeluruh Program Internship
Jakarta – Rentetan meninggalnya enam dokter muda peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) sepanjang tahun 2026 menjadi perhatian serius pemerintah, organisasi profesi, akademisi, dan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan fenomena tersebut merupakan kejadian yang belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya dan kini menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan program internship.
Kasus terbaru yang menyita perhatian publik adalah meninggalnya seorang dokter internship di Jakarta Selatan yang hingga kini masih dalam proses penyelidikan kepolisian. Bersamaan dengan itu, Kemenkes melakukan audit terhadap seluruh kasus kematian dokter internship yang terjadi sepanjang tahun ini untuk mengetahui penyebab serta merumuskan langkah pencegahan ke depan.
Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kemenkes, dr. Yuli Farianti, menyampaikan bahwa dari hasil investigasi sementara, mayoritas kasus kematian tidak berkaitan dengan beban kerja semata, melainkan disebabkan oleh kondisi medis yang telah diderita masing-masing peserta. Meski demikian, pemerintah tetap menilai perlu dilakukan pembenahan terhadap sistem pendampingan, skrining kesehatan, dan pengawasan selama masa internship.
Sebagai tindak lanjut, Kemenkes akan memperketat medical check-up (MCU) sebelum penempatan peserta, meningkatkan skrining kesehatan mental, memperkuat pemantauan kondisi fisik dan psikologis peserta, serta mengevaluasi pelaksanaan jam kerja agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko kesehatan selama dokter muda menjalani program internship.
Kementerian Kesehatan juga memastikan bahwa Program Internsip Dokter Indonesia tidak dihentikan. Pendaftaran peserta baru tetap dibuka, namun proses pemberangkatan akan disesuaikan setelah evaluasi terhadap rangkaian kasus kematian ini selesai dilakukan. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan peserta menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan program.
Di sisi lain, berbagai organisasi profesi dan kalangan akademisi mendorong agar evaluasi tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga mencakup kualitas pembimbing, sistem supervisi, lingkungan kerja, hingga perlindungan terhadap dokter muda yang bertugas di berbagai daerah. Evaluasi tersebut dinilai penting agar tujuan meningkatkan kompetensi dokter tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan peserta.

